Pondok Pesantren Asshirathal Mustaqim DDI Baru-Baru Tanga, Kabupaten Pangkep, adalah merupakan salah satu Pondok Pesantren yang ada di Kabupaten Pangkep yang sedang dalam tahap perkembangan. Pondok Pesantren ini berdiri sejak tahun 1999. Pada awal berdirinya dipimpin oleh Sirajang, BA. namun saat sekarang ini pesantren tersebut dipimpin oleh Drs. K. H. Hijruddin Mujahid.

Pesantren ini mempunyai beberapa tingkatan pendidikan, diantaranya :
* TPA
* PAUD
* Madrasah Ibtidaiyah
* Madrasah Diniyah Awaliyah
* Madrasah Tsanawiyah
* Madrasah Aliyah
* Pondok Pesantren Salafiyah

Jumlah santri saat ini kurang lebih 500 santri yang sedang dibina saat ini. Tenaga edukatif dan administratif juga sudah memadai untuk melayani pendidikan dan pengadministrasian masing-masing tingkatan jenjang pendidikan.

Pesantren Asshirathal Mustaqim DDI Baru-Baru Tanga, saat ini mempunyai beberapa kegiatan yang menunjang jalannnya kurikulum nasional maupun kurikulum lokal. Kegiatan pendidikan yang sedang dikembangkan ialah antara lain, kegiatan pendidikan formal yang dilakukan saat pagi dan siang hari, kegiatan pendidikan informal seperti pengajian kitab kuning, pendalaman bahasa asing, pembinaan olahraga, pengembangan kegiatan ekstrakurikuler, pengembangan diri, dan pengembangan seni dan tekhnologi informatika dasar.

Pimpinan Pondok Pesantren Asshirathal Mustaqim DDI

Pimpinan Pondok Pesantren Asshirathal Mustaqim DDI

(31/08/2009). Departemen Agama Kabupaten Pangkep melakukan kunjungan kerja di Pondok pesantren Asshirathal Mustaqim DDI Baru-Baru Tanga Kabupaten Pangkep, dengan maksud dan tujuan daripada kunjungannya ialah melakukan pembinaan mutu pondok pesantren yang dilakukan oleh Ketua Kelompok Kerja Pengawas Departemen Agama Kab. Pangkep, Tajuddin Rajja, dan pejabat sementara bersama staf dari Pekapontren Departemen Agama Kab. Pangkep, M. Yunus, SH, St. Fatimah, Yunus,SE.

Dalam kunjungan pembinaan ini, rombongan Departemen Agama Kab. Pangkep diterima dan disambut oleh Pimpinan Pondok Pesantren Asshirathal Mustaqim DDI Baru-Baru Tanga Kabupeten Pangkep bersama dengan dewan guru yang juga menghadiri kegiatan pesantren tersebut yaitu kegiatan ramadhan berupa Gema Ramadhan 1430 H. Pembinaan monitoring Pondok Pesantren yang dilakukan oleh Departemen Agama Kabupaten Pangkep ini, dituturkan oleh Kepala Departemen Agama Kab. Pangkep yang diwakili oleh Ketua Pokjawas Depag. Kab. Pangkep, Tajuddin Rajja, bahwa tujuan utama pembinaan ini ialah tidak lain hanya untuk memantau pembinaan pondok pesantren secara langsung dan objektif. Pembinaan-pembinaan yang disampaikan dan menjadi perhatian bagi seluruh pengelola pondok pesantren Asshirathal Mustaqim DDI Baru-Baru Tanga Kab. Pangkep ialah ketertiban pelaksanaan administrasi pondok pesantren seperti halnya ialah Laporan Bulanan Keadaan perkembangan Pondok pesantren yang sekiranya dibuat dan dilaporkan kepada Departemen Agama Kab. Pangkep setiap bulannya.

Menurut penuturan staf Pekapontren, St. Fatimah, bahwa laporan bulanan yang dibuat dan dilaporkan kepada Departemen Agama Kab. Pangkep itu merupakan tolak ukur atas keberhasilan pelaksanaan pendidikan, administrasi dan pembinaan minat dan bakat santri yang dibina di pesantren tersebut. Kepala Departemen Agama Kab. Pangkep yang diwakili oleh ketua pokjawas Departemen Agama Kab. Pangkep bahwa di Kabupaten Pangkep terdapat beberapa pondok pesantren, namun dalam mengambil sampel pembinaan pondok pesantren ini hanya 3 buah pondok pesantren yang dijadikan tolak ukur atas keberhasilan para pondok pesantren membina dan mendidik santri-satriwatinya. Pesantren yang dimaksud ialah Pondok Pesantren Ar Rahman DDI Galla Raya, Pondok Pesantren Al Azhar DDI Bonto-Bonto, dan Pondok Pesantren Asshirathal Mustaqim DDI Baru-Baru Tanga.

Selain pembinaan administrasi yang disarankan dalam pembinaan ini, juga dilakukan pembinaan kegiatan santri di pondok pesantren. Seperti halnya kegiatan yang akan datang yaitu Pekan Olahraga dan Seni Tingkat Daerah Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010, dimana tim pembinaan sangat mengharapkan kepada pihak pesantren Asshirathal mustaqim DDI Baru-Baru Tanga untuk melakukan pembinaan intensif kepada santri dalam bidang olahraga dan seni tertentu untuk diikuti dalam event tersebut. Pembinaan khusus untuk menghadapi Pospeda Tahun 2010, harus dilakukan pembinaan yang intensif dan berkelanjutan agar pada saat event tersebut tiba, maka para peserta yang nantinya menjadi kafilah Departemen Agama Kab. Pangkep sudah siap dan matang untuk berlomba dan bertanding dalam event Pekan Olahraga dan Seni Tingkat Daerah Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010.

Kunjungan tersebut diakhiri dengan pembacaan do’a yang dipimpin oleh pimpinan pondok pesantren Asshirathal Mustaqim DDI Baru-Baru Tanga, Drs. K. H. Hijruddin Mujahid dan dilanjutkan dengan silaturahmi antara tim monitoring pembinaan pondok pesantren Departemen Agama Kab. Pangkep bersama dengan dewan guru dan pimpinan serta staf yang sempat hadir di tempat itu (munas_news).

Oleh: ponpesddibbt | 29 Agustus 2009

SEJARAH BERDIRINYA DDI

Lambang DDI
Lambang DDI

MAI SENGKANG

Salah satu lembaga pendidikan tertua di Sulawesi Selatan yang dikenal luas di Indonesia adalah Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) di Sengkang Kabupaten Wajo yang didirikan bersetuju dengan bulan Zulkaidah 1348 H, yang bertepatan dengan bulan Mei 1930 M, oleh K. H. Muh. As’ad yang baru saja kembali dari Mekah pada tahun 1928. Pendidikan formal terakhir yang diikuti beliau di Mekah adalah di Madrasah Al-Falah.

Pada awal mulanya MAI Sengkang hanya merupakan pengajian dengan sistem mengaji tu’dang yang diadakan dirumah K. H. Muh As’ad, yang oleh penduduk setempat dan murid-muridnya, hingga kini, menyebutnya Anregurutta Sade. Menyusul yang santrinya yang semakin bertambah banyak, maka tempat pengajiannya pun dipindahkan ke Masjid Jami Sengkang. Walaupun mengaji tu’dang masih berlanjut, seiring dengan berkembangnya jumlah santri yang tidak tertampung lagi maka didirikan lembaga pendidikan madrasah dengan sistem klasikal, yang oleh K. H. Muh. As’ad pengorganisasiannya dipercayakan kepada salah seorang ustadz dan sekaligus murid kepercayaannya, yang kemudian juga terkenal sebagai ulama besar Indonesia yang berasal dari Sulawesi Selatan, yakni K. H. Abd. Rahman Ambo Dalle.
Selama MAI Sengkang masih dibawah kepemimpinan K. H. Muh. As’ad tidak ada perluasan ekspansi wilayah. Beliau tidak membenarkan adanya pendirian MAI di tempat lain, baik sebagai cabang ataupun sebagai filial. Dampak dari kebijakan ini adalah semua santri yang ingin memperoleh ilmu dari K. H. Muh. As’ad harus datang ke Sengkang dan mondok di MAI Sengkang. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran beliau akan sulitnya mengendalikan cabang-cabang, menjaga standar mutu pendidikan, dan nantinya akan mempengaruhi citra MAI Sengkang secara keseluruhan. Beliau tidak pernah khawatir akan kekurangan santri, seandainya dibuka kesempatan mendirikan cabang atau filial di luar Sengkang sekalipun.
Berkat pembinaan yang dilakukan oleh K. H. Muh. As’ad, maka MAI Sengkang inilah lahir ulama tokoh pendidik Islam Sulawesi Selatan yang terkemuka, seperti : K. H. Muhammad Daud Ismail, K. H. Muh. Abduh Pabbajah, K. H. Muhammad Yunus Maratan, K. H. Muhammad Yusuf Hamzah, K. H. Abdul Muin Yusuf, K. H. Muhammad Amberi Said, K. H. Djunaid Sulaiman, K. H. Muhammad Amin Nashir, K. H. Marzuki Hasan dan tentunya K. H. Abd. Rahman Ambo Dalle. Kesemuanya ini adalah merupakan santri angkatan pertama dari K. H. Muh. As’ad.
Hanya saja pembinaan langsung, yang dilakukan oleh K. H. Muh. As’ad kepada santri-santri MAI Sengkang tidak begitu lama, karena Tuhan telah memanggil beliau masih dalam usia yang relatif muda, 45 Tahun. Beliau wafat pada hari Senin, 12 Rabiul Awal 1372 H bertepatan dengan 29 Desember 1952 M. atau dua tahun setelah Sulawesi Selatan melepaskan diri dari pemerintahan Negara Indonesia Timur (NIT) buatan belanda bersama dengan wilayah-wilayah Indonesia lainnya melalui konferensi Meja Bundar di Belanda pada bulan November – Desember 1949, kecuali Irian Barat yang nanti diintegrasi Republik Indonesia pada tahun 1962.
Untuk mengenang jasa-jasa K. H. Muh. As’ad, tokoh pendiri dan pembina MAI Sengkang sertya ulama pertama yang mempraktekkan pendidikan pondok pesantren dengan sistem klasikal, maka pada tanggal 25 Sya’ban 1372 H, yang bertepatan dengan tanggal 9 Mei 1953 murid-muridnya sepakat mengubah nama MAI Sengkang menjadi perguruan As’adiyah, suatu nama perguruan yang tidak sekedar mengabadikan nama K. H. Muh. As’ad tetapi juga nama perguruan yang mengandung harapan agar santri-santri yang belajar di perguruan ini dapat mewarisi ilmu dan kemasyhuran K. H. Muh. As’ad.
Setelah perubahan nama perguruan atau setelah K. H. Muh. As’ad wafat baru ada keberanian dari pengelola mendirikan cabang di luar kota Sengkang. Selain perluasan cabang ke beberapa daerah, juga perguruan As’adiyah mengalami perluasan jenjang pendidikan yang kini pengelola mulai dari tongkat Taman Kanak-kanak sampai pada tingkat perguruan Tinggi.
 
 
Sumber : DARUD DA’WAH WAL-IRSYAD (DDI) Dalam Simpul Sejarah Kebangkitan dan Perkembangan.

Kategori