
- Lambang DDI
MAI SENGKANG
Salah satu lembaga pendidikan tertua di Sulawesi Selatan yang dikenal luas di Indonesia adalah Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) di Sengkang Kabupaten Wajo yang didirikan bersetuju dengan bulan Zulkaidah 1348 H, yang bertepatan dengan bulan Mei 1930 M, oleh K. H. Muh. As’ad yang baru saja kembali dari Mekah pada tahun 1928. Pendidikan formal terakhir yang diikuti beliau di Mekah adalah di Madrasah Al-Falah.
Pada awal mulanya MAI Sengkang hanya merupakan pengajian dengan sistem mengaji tu’dang yang diadakan dirumah K. H. Muh As’ad, yang oleh penduduk setempat dan murid-muridnya, hingga kini, menyebutnya Anregurutta Sade. Menyusul yang santrinya yang semakin bertambah banyak, maka tempat pengajiannya pun dipindahkan ke Masjid Jami Sengkang. Walaupun mengaji tu’dang masih berlanjut, seiring dengan berkembangnya jumlah santri yang tidak tertampung lagi maka didirikan lembaga pendidikan madrasah dengan sistem klasikal, yang oleh K. H. Muh. As’ad pengorganisasiannya dipercayakan kepada salah seorang ustadz dan sekaligus murid kepercayaannya, yang kemudian juga terkenal sebagai ulama besar Indonesia yang berasal dari Sulawesi Selatan, yakni K. H. Abd. Rahman Ambo Dalle.
Selama MAI Sengkang masih dibawah kepemimpinan K. H. Muh. As’ad tidak ada perluasan ekspansi wilayah. Beliau tidak membenarkan adanya pendirian MAI di tempat lain, baik sebagai cabang ataupun sebagai filial. Dampak dari kebijakan ini adalah semua santri yang ingin memperoleh ilmu dari K. H. Muh. As’ad harus datang ke Sengkang dan mondok di MAI Sengkang. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran beliau akan sulitnya mengendalikan cabang-cabang, menjaga standar mutu pendidikan, dan nantinya akan mempengaruhi citra MAI Sengkang secara keseluruhan. Beliau tidak pernah khawatir akan kekurangan santri, seandainya dibuka kesempatan mendirikan cabang atau filial di luar Sengkang sekalipun.
Berkat pembinaan yang dilakukan oleh K. H. Muh. As’ad, maka MAI Sengkang inilah lahir ulama tokoh pendidik Islam Sulawesi Selatan yang terkemuka, seperti : K. H. Muhammad Daud Ismail, K. H. Muh. Abduh Pabbajah, K. H. Muhammad Yunus Maratan, K. H. Muhammad Yusuf Hamzah, K. H. Abdul Muin Yusuf, K. H. Muhammad Amberi Said, K. H. Djunaid Sulaiman, K. H. Muhammad Amin Nashir, K. H. Marzuki Hasan dan tentunya K. H. Abd. Rahman Ambo Dalle. Kesemuanya ini adalah merupakan santri angkatan pertama dari K. H. Muh. As’ad.
Hanya saja pembinaan langsung, yang dilakukan oleh K. H. Muh. As’ad kepada santri-santri MAI Sengkang tidak begitu lama, karena Tuhan telah memanggil beliau masih dalam usia yang relatif muda, 45 Tahun. Beliau wafat pada hari Senin, 12 Rabiul Awal 1372 H bertepatan dengan 29 Desember 1952 M. atau dua tahun setelah Sulawesi Selatan melepaskan diri dari pemerintahan Negara Indonesia Timur (NIT) buatan belanda bersama dengan wilayah-wilayah Indonesia lainnya melalui konferensi Meja Bundar di Belanda pada bulan November – Desember 1949, kecuali Irian Barat yang nanti diintegrasi Republik Indonesia pada tahun 1962.
Untuk mengenang jasa-jasa K. H. Muh. As’ad, tokoh pendiri dan pembina MAI Sengkang sertya ulama pertama yang mempraktekkan pendidikan pondok pesantren dengan sistem klasikal, maka pada tanggal 25 Sya’ban 1372 H, yang bertepatan dengan tanggal 9 Mei 1953 murid-muridnya sepakat mengubah nama MAI Sengkang menjadi perguruan As’adiyah, suatu nama perguruan yang tidak sekedar mengabadikan nama K. H. Muh. As’ad tetapi juga nama perguruan yang mengandung harapan agar santri-santri yang belajar di perguruan ini dapat mewarisi ilmu dan kemasyhuran K. H. Muh. As’ad.
Setelah perubahan nama perguruan atau setelah K. H. Muh. As’ad wafat baru ada keberanian dari pengelola mendirikan cabang di luar kota Sengkang. Selain perluasan cabang ke beberapa daerah, juga perguruan As’adiyah mengalami perluasan jenjang pendidikan yang kini pengelola mulai dari tongkat Taman Kanak-kanak sampai pada tingkat perguruan Tinggi.
Sumber : DARUD DA’WAH WAL-IRSYAD (DDI) Dalam Simpul Sejarah Kebangkitan dan Perkembangan.